Pengalaman Cuma-cuma

15 Agustus 2006…

Barisan putra-putri altar mengawali iringan para imam memasuki gedung gereja St. Bartolomeus, Galaxy, Bekasi. Seiring asap dupa nan wangi, alunan doa dalam nada membumbung ke angkasa, mengantar asa seisi jemaat ke hadiratNya: “Ke depan altar, aku melangkah…” 

15 Agustus 2016…. (10 tahun kemudian)

Melangkah sendiri ke halaman gereja St. Joseph artisan, diri ini disambut senyum dan sapa seorang tentara yang berjaga di muka gerbang gereja:”Bonjour et bonne fête” (Selamat pagi dan selamat berpesta). Selanjutnya, bersama 9 suster dari konggregasi Servantes des pauvres dan seorang ibu, di dalam kapel biara mereka yang mungil, kami merayakan ekaristi, mendalami misteri iman terangkatnya Bunda Maria ke surga.

Apa kesamaan antara 15 Agustus 10 tahun yang lalu dan 15 Agustus hari ini? 

Satu pengalaman ditawarkan oleh kenangan tahbisan 10 tahun yang lalu dan senyum sapa seorang tentara serta kesederhanaan hidup para suster yang kuterima hari ini: pengalaman akan yang “cuma-cuma.”

Imamat adalah pemberian cuma-cuma Allah melalui GerejaNya; senyum sapa seorang tentara adalah pemberian cuma-cuma; kesaksian para suster biara adalah pemberian cuma-cuma. Semuanya mewujudkan pengalaman akan yang cuma-cuma, yang gratis, yang melampaui perhitungan untung rugi, melampaui logika berguna atau tak berguna.

Orang Latin menamakan yang cuma-cuma sebagai gratis, dari gratia, rahmat. Artinya: pemberian ilahi yang mendahului logika pantas tidak pantas menurut hukum dunia.

Orang Yunani tidak jauh dari pengertian yang sama ketika menamai keindahan dengan istilah charis, yaitu pengalaman estetis berkat perjumpaan dengan segala yang indah dalam seni, di alam ciptaan, dst.

Maka, imamat adalah rahmat sekaligus keindahan. Ia menjadi tanda kehadiran sisi kehidupan yang cuma-cuma, kehidupan sebagai anugerah, sebagai hadiah. 

Di tengah arus logika untung rugi dan perhitungan praktis yang menyempitkan identitas manusia modern sebagi homo economicus, imamat, seperti halnya senyum sapa seorang tentara dan kesaksian hidup para suster biara, merupakan undangan untuk menyelami kehidupan manusia sebagai misteri rahmat sekaligus keindahan.

Tidak semuanya bisa disimpulkan dalam logika menang kalah, untung rugi, berguna atau sia-sia. Ada dimensi kehidupan yang hanya bisa diterima: 

Pengelana tidak akan bertanya mengapa mawar merah berada di sana. Ia akan terpukau akan keindahan sang mawar dan menerimanya sebagai hadiah semesta

Paris, 15 Agustus 2016

Hari Raya Bunda Maria diangkat ke surga

2 pemikiran pada “Pengalaman Cuma-cuma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s