Kitab Suci: kata-kata manusiawi dan ilahi

Sebagaimana tercermin dari namanya, Kitab Suci memiliki dua segi yang saling berkaitan, yaitu segi manusiawi sebagaimana terkandung dari kata ‘kitab’ dan segi ilahi sebagaimana tercermin dari kata ‘suci’.

Sebuah buku berjudul Kitab Suci

Sebagai kitab atau buku, Kitab Suci berdimensi manusiawi karena beberapa alasan. Pertama-tama, Kitab Suci adalah sebuah benda nyata yang dapat kita lihat, kita raba, kita genggam, kita cium. Singkat kata, Kitab Suci menjadi objek yang berada di dalam genggaman kita.

Kitab Suci berdimensi manusiawi juga karena ia tampil sebagai sebuah objek tertentu yang kita kenal sebagai buku. Seperti buku-buku lainnya, Kitab Suci adalah cara dan sekaligus sarana komunikasi. Tujuan setiap komunikasi adalah terciptanya kebersamaan (communio) berkat pemahaman yang sama. Agar tujuan tersebut tercapai, setiap buku, termasuk Kitab Suci, menggunakan bahasa manusia, yaitu bahasa yang dapat dipahami oleh sekelompok orang dalam jaman dan budaya tertentu. Singkat kata, Kitab Suci ditulis untuk dipahami manusia dan karena itu ia menggunakan bahasa manusia.

Sebagai sarana komunikasi antar manusia, Kitab Suci ditulis oleh manusia untuk manusia-manusia lainnya. Sebagai buku, bahasa yang digunakan oleh Kitab Suci adalah bahasa tulis. Maka, ketika membaca Kitab Suci, kita berhadapan pertama-tama dengan tulisan, yaitu huruf yang bersatu menjadi kata, kata-kata yang kita lihat berjejeran membentuk kalimat dan kalimat berbaris membentuk alinea dan kumpulan alinea yang membentuk bab dst. Semuanya itu kita lihat. Kita tidak mendengarkan kata-kata pengarang. Kita tidak mendengarkan penjelasan penulis Kitab Suci. Kita membaca apa yang ada di depan mata kita, yaitu kata-kata tertulis.

Namun demikian, kita mengenal istilah yang tersurat dan yang tersirat. Yang tersurat adalah kata-kata yang tertulis, yang nyata, yang dapat kita tunjuk karena kata itu ada di sana. Yang tersirat adalah maksud dari kata-kata tersebut atau apa yang mau disampaikan oleh mereka. Yang tersirat tidak dapat kita tunjuk sebab ia tidak kelihatan; ia ada di kepala kita sebagai gambaran yang muncul berkat kata-kata yang tertulis, berkat yang tersurat.

Misalnya, kita membaca tulisan, ‘malam’. Yang kita baca adalah yang tersurat, yaitu jejeran huruf m-a-l-a-m. Akan tetapi, tulisan ‘malam’ menciptakan bayangan di benak kita yang jauh lebih kaya dari jejeran huruf semata. Itulah yang tersirat.

Masalahnya adalah bayangan yang kita punya tidak selamanya sama dengan gambaran yang dimiliki oleh orang-orang yang sezaman dengan penulis Kitab Suci. Misalnya, kita mungkin akan heran, mengapa kata ‘salib’ begitu jarang muncul di dalam Kitab Perjanjian Baru. Total jenderal, kata ‘salib’ hanya muncul 27 kali dalam seluruh PB. Mengapa?

Karena, bagi orang di jaman itu, kata salib adalah kata yang tabu untuk diucapkan sebab istilah salib menimbulkan gambaran yang terlalu kejam, sadis: tubuh manusia terhukum, telanjang, terpancang di kayu, dibiarkan mati tersiksa dan bangakinya tergantung di sana menjadi santapan burung.

Sebaliknya, untuk orang jaman sekarang, kadar skandal dan kengerian yang muncul dari kata ‘salib’ sudah jauh berkurang. Kita menemukan patung salib di banyak tempat, tergantung di gedung gereja, di kamar kita. Bahkan, salib menjadi perhiasan atau aksesoris bagi siapa saja yang mau mengenakannya.

Inilah alasan terakhir mengapa, sebagai buku, Kitab Suci berdimensi manusiawi: ada jarak antara jaman di mana kita berada dan jaman ketika Kitab Suci ditulis. Segala yang manusiawi dibatasi ruang dan waktu. Demikian juga Kitab Suci. Ia datang dari waktu tertentu, dari komunitas tertentu, yang berbeda budaya dan bahasanya dengan jaman kita.

Kitab Suci: buku umat beriman

Kitab Suci hanya akan menjadi sebuah buku di antara jejeran buku lainnya kalau kita tidak menggali arti kata sifat suci yang melekat padanya. Kitab Suci berdimensi manusiawi sekaligus ilahi. Ia memang buku tetapi buku suci. Mengapa?

Karena Kitab Suci lahir dari dan di dalam komunitas orang beriman. Imanlah yang membuat Kitab Suci yang kita miliki bersifat ilahi. Membaca Kitab Suci dengan mata iman berarti percaya bahwa Allah berbicara kepada setiap orang beriman yang membaca Kitab Suci melalui sarana manusiawi, yaitu sebuah buku, sebuah kitab. Kita bisa membaca secara demikian karena kita tumbuh dalam sebuah komunitas beriman. Kitab Suci bukanlah buku pribadi. Ia buku jemaat, buku komunitas. Maka hanya berkat belajar dari komunitas beriman, Kitab Suci menjadi suci, artinya menjadi sarana komunikasi tidak saja antar manusia tetapi juga antara Allah dan manusia.

Dengan demikian, Kitab Suci mengandung kata-kata manusia sekaligus kata-kata Allah. Bagaimana bisa memahaminya?

Bagian-bagian berikutnya akan mengupas jawabannya langkah demi langkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s